Wednesday, 23 October 2013

Pendekatan Sejarah dalam Kajian Islam

A. Pendahuluan
Islam telah menjadi kajian yang menarik minat banyak kalangan.Studi keislaman pun semakin berkembang.Islam tidak lagi dipahami hanya dalam pengertian historis dan doktriner, tetapi telah menjadi fenomena yang kompleks.Islam tidak hanya terdiri dari rangkaian petunjuk formal tentang bagaimana seorang individu harus memaknai kehidupannya.Islam telah menjadi sebuah sistem budaya, peradaban, komunitas politik, ekonomi dan bagian sah dari perkembangan dunia.Mengkaji dan mendekati Islam, tidak lagi mungkin hanya dari satu aspek, karenanya dibutuhkan metode dan pendekatan interdisipliner.
Semua aspek kehidupan tidak lepas dari faktor sejarah, sejarah merupakan bukti yang nyata untuk melangkah lebih maju, karena dengan sejarah, manusia bisa belajar kesalahan-kesalahan yang telah lalu dan mengetahui data-data yang bisa di pertanggung jawabkan. Dalam metologi islam, diperlukan sejarah untuk mengetahui kebenaran yang valid yang tidak dicampuri oleh orang-orang terdahulu, untuk itu sangatlah urgan dalam penelitian sejarah.
Sementara itu, agama atau keagamaan sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji melalui berbagai sudut pandang.Islam khususnya, sebagai agama yang telah berkembang selama empatbelas abad lebih menyimpan banyak banyak masalah yang perlu diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan pemikiran kegamaan maupun realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya.Salah satu sudut pandang yang dapat dikembangkankan bagi pengkajian Islam itu adalah pendekatan sejarah.Berdasarkan sudut pandang tersebut, Islam dapat dipahami dalam berbagai dimensinya.Betapa banyak persoalan umat Islam hingga dalam perkembangannya sekarang, bisa dipelajari dengan berkaca kepada peristiwa-peristiwa masa lampau, sehingga segala kearifan masa lalu itu memungkinkan untuk dijadikan alternatif rujukan di dalam menjawab persoalan-persoalan masa kini. Di sinilah arti pentingnya sejarah bagi umat Islam pada khususnya, apakah sejarah sebagai pengetahuan ataukah ia dijadikan pendekatan didalam mempelajari agama.












B. Rumusan Masalah
1. Pendekatan sejarah
2. Metode Penelitian Sejarah
3. Islam Sebagai Wahyu dan Produk Sejarah




C.    PEMBAHASAN
1. PENDEKATAN SEJARAH
Sejarah atau historis adalah ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, wktu, objek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut.Menurut ilmu ini, segala peristiwa dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, di mana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut.Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis.
Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini, Kuntowijoyo telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang dalam hal ini islam, menurut pendekatan sejarah. Ketika ia mempelajari Alquran, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya kandungan Alquran ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, berisi konsep-konsep dan bagian kedua, berisi kisah-kisah sejarah dan perumpamaan.
Dalam bagian pertama yang berisi konsep-konsep, kita mendapat banyak sekali istilah Alquran yang merujuk pada pengertian-pengertian normatif yang khusus, doktrin-doktrin etik, aturan-aturan legal, dan ajaran-ajaran keagamaan pada umumnya.Istilah-istilah atu singkatnya pernyataan-pernyataan itu mungkin diangkat dari konsep-konsep yang telah dikenal oleh masyarakat Arab pada waktu Al-quran diturunkan atau bisa jadi merupakan istilah-istilah baru yang di bentuk untuk mendukung adanya konsep-konsep religius yang ingin diperkenalkannya.Yang jelas, istilah-istilah itu kemudian di integrasikan ke dalam pandangan dunia Alquran, dan dengan demikian lalu menjadi konsep-konsep yang otentik.
Dalam bagian pertama ini kita mengenal banyak sekali konsep, baik yang bersifat abstrak maupun konkret.Konsep tentang Allah, konsep tentang malaikat, tentang akhirat, tentang ma’ruf, tentang munkar dan sebagainya adalah konsep-konsep yang abstrak. Sementara itu juga di tunjukkan konsep-konsep yang lebih menunjukkan kepada fenomena konkret dan dapat diamati (observable) misalnya konsep tentang fuqara (orang-orang fakir), dhu’afa (orang lemah), mustadl’afin (kelas tertindas), zhalimun (para tiran), aghniya (orang kaya), mustakbirun (penguasa), mufasidun (koruptor-koruptor), dan sebagainya.
Selanjutnya, jika pada bagian yang berisi konsep-konsep Alquran bermaksud membentuk pemahaman yang komprehensif mengenai nilai-nilai islam, maka pada bagian kedua yang berisi kisah-kisah dan perumpamaan, Alquran ingin mengajak dilakukannya perenungan untuk memperoleh hikmah. Melalui kontemplasi terhadap kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa historis dan juga melalui kiasan-kiasan yang berisi hikmah tersembunyi, manusia diajak merenungkan hakikat dan makna kehidupan.Banyak sekali ayat yang berisi ajakan semacam ini, tersirat maupun tersurat, baik menyangkut hikmah histori ataupun simbol-simbol.Misalnya simbol tentang rapuhnya rumah laba-laba, tentang luruhnya sehelai daun yang tak lepas dari pengamatan Tuhan atau tentang keganasan samudera yang menyebabkan orang-orang kafir berdoa.
Melalui pendekatan sejarah ini seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Dari sini maka seseorang tidak akan memahami agama keluar dari konteks historinya, karena pemahaman demikian itu akan menyesatkan orang yang memahaminya. Seseorang yang ingin memahami Alquran secara benar misalnya, yang bersangkutan harus mempelajari sejarah turunnya Alquran atau kejadian-kejadian yang mengiringi turunnya Alquran yang selanjutnya di sebut sebagai Ilmu Asbab Al-Nuzul (Ilmu tentang sebab-sebab turunnya Ayat Alquran) yang pada intinya berisi tentang sejarah turunnya Ayat Alquran. Dengan ilmu Asbab un Nuzul ini seseorang akan dapat mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenaan dengan hukum tertentu dan ditunjukkan untuk memelihara syariat dan kekeliruan memahaminya.

2METODE PENELITIAN SEJARAH
Metode penelitian sejarah lazim juga disebut metode sejarah.  Metode itu sendiri berarti cara, jalan, atau petunjuk pelaksanaan atau petunjuk teknis. Metode di sini dapat dibedakan dari metodologi, sebab metodologi adalah “science of methods” ,yakni ilmu yang membicarakan jalan. Sementara yang dimaksud dengan penelitian, menurut Florence M.A. Hilbish (1952), adalah penyelidikan yang saksama dan teliti terhadap suatu subjek untuk menemuka fakta-fakta guna menghasilkan produk baru, memecahkan suatu maslah, atau untuk menyokong atau menolak suatu teori. Oleh karna itu, metode sejarah dalam pengertiannya yang umum adalah penyelidikan atas suatu masalah dengan mengaplikasikan jalanpemecahannya dari perspektif historis.
Berdasarkan pengertian di atas, para ahli ilmu sejarah sepakat untuk menetapkan empat kegiatan pokok di dalam cara meneliti sejarah. Istilah-istilah yang dipergunakan bagi keempat langkah itu berbeda-beda, tetapi makna dan maksud nya sama. Gottschalk (1983: 18), misalnya, mensistematisasikan langkah-langkah itu sebagai berikut:
1.      Pengumpulan objek yang berasal dari suatu zaman dan pengumpulan bahan-bahan tertulis dan lisan yang relevan;
2.      Menyingkirkan bahan-bahan (atau bagian-bagian daripadanya) yang tidak autentik;
3.      Menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya berdasarkan bahan-bahan yang autentik;
4.      Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya itu menjadi suatu kisah atau penyajian yang berarti.
Ringkasnya, setiap langkah ini biasa juga disebut secara berurutan dengan: heuristic, kritik atau verifikasi, aufessung atauinterprestasi, dan darstellung atau historiografi. Sebelum keempat langkah ini, sebetulnya ada satu kegiatan penting, yang oleh Kuntowijoyo (1995: 98) ditambahkannya menjadi lima tahap penelitian sejarah, yaitu pemilihan topic dan rencana penelitian.
Dengan menggunakan pendekatan sejarah ada minimal dua teori yang bisa digunakan yaituIdealist Approach  danReductionalitst Approach. Maksud idealist approach adalah seorang peneliti yang berusaha memahami dan menafsirkan fakta sejarah dengan mempercayai secara penuh fakta yang ada tanpa keraguan. Sedangkanreductionalitst  approach adalah seorang peneliti yang berusaha memahami dan menafsirkan fakta sejarah dengan penuh keraguan. Seperti dijelaskan sebelumnya ada 3 teori lain yang penting di pahami dengan pendekatan sejarah, yakni: diakronik, sinkronik dan sistem nilai.
1.      Diakroni
Diakronik dalah penelusuran sejarah dan perkembangan satu fenomena yang sedang diteliti. Misalnya kalau sedang meneliti konsep riba, menurut Muhammad Abduh diakroninya adalah harus lebih dahulu membahas kajian-kajian orang sebelumnya yang pernah membahas tentang riba.
2.      Sinkronik
Sinkronik adalah kontekstualisasi atau sosiologis kehidupan yang mengitari fenomena yang sedang diteliti. Kembali pada contoh konsep riba Muhammad ‘Abduh, maka sosial kehidupan Muhammad ‘Abduh dan sosial kehidupan tokoh-tokoh yang pernah membahas fenomena yang sama juga harus dibahas.
3.      Sistem nilai
Sistem nilai adalah sistem nilai atau budaya sang tokoh dan budaya dimana dia hidup. Maka penelitian dengan teori diakroni, sinkroni dan sistem budaya adalah penelitian yang menelusuri latar belakang dan perkembangan fenomena yang diteliti lengkap dengan sejarah sosio-historis dan nilai budaya yang mengitarinya. Maka wajar kalau alat analisis ini lebih dikenal sebagai alat analisis sejarah dan/atau sosial (sosiologi).
3.ISLAM SEBAGAI WAHYU DAN PRODUK SEJARAH
a.      Islam Sebagai Wahyu
Islam biasanya di definisikan sebagai berikut: al-islam wah-yun ilahiyun unzila ila nabiyyi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallama lisa’adati al-dunya wa al-akhiroh (islam adalah wahyu yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW sebagai pedoman untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat) jadi inti islam adalah wahyu yang di turunkan kepada Nabi Muhammad. Kita percaya bahwa wahyu itu terdiri dari dua macam yaitu: wahyu yang berbentuk Al-Qur’an dan whyu yang berbentuk hadist, sunnah Nabi Muhammad SAW.Persoalan-persoalan di sekitar Al-Qur’an yang dapat dijadikan sasaran penelitian itu banyak sekali.Kalau kita lihat kitab-kitab Ulumul Qur’an, banyak sekali di daftar persoalan-persoalan di sekitar Al-Quran itu.
Tujuan studi Al-Quran bukan mempertanyakan kebenaran Al-Quran sebagai wahyu, tetapi misalnya mempertanyakan bagaimana membaca Al-Qur’an, kenapa cara membacanya begitu? Berapa macam jenis bacaan itu? Siapa yang menggunakan jenis-jenis bacaan tertentu, apa kaitannya dengan bacaan-bacaan sebelumnya? Apa sesungguhnya yang melatar belakangi lahirnya suatu ayat? Apa maksud ayat itu?  Maka lahirlah misalnya tafsir Maudu’I yang merupakan salah satu bentuk jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan diatas.
Mengenai nasikh-mansukh, orang juga terus berbeda pendapat.Meskipun kita ambil pendapat bahwa ada ayat Al-Quran yang dimansukh, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai jumlah ayat yang di mansukh. Awalnya, jumlah ayat yang di mansukh adalah 115 ayat, kemudian turun menjadi 60 ayat, sekarang turun lagi menjadi 16 ayat.Itu merupakan persoalan penting untuk di teliti. Menurut al-itqen, paling kurang ada 80 topik persoalan yang perlu diteliti dalam persoalan-persoalan berkaitan dengan Al-Quran.
Selanjutnya islam sebagai wahyu yang di serminkan dalam hadist-hadist nabi Muhammad saw. Persoalan di sekitar hadist tidak perlu dikemukakan banyaknya. Bagaimana dalam buku hadist pertama, Al-muwatta’, yang dikumpulkan ternyata hanya memuat sekitar 700 buah hadist,termasuk sunnah sahabat. Sementara ituoleh Imam Bukhori yang datang belakangan dicatat 4.000 hadist.Oleh Imam Muslim di catat 6.000 hadist. Lalu oleh Imam Ahmad bin Hambal dicatat 8.500 hadist. Kenapa ada pertambahan jumlah semacam itu?Kemudian ada hadist shahih, hadist mutawatir, hadist mashur dan hadist ahad.Wilayah-wilayah inilah yang dapat dijadikan kajian.Fazlur Rahman berpendapat, yang menyarankan penggunaan pendekatan historical criticism terhadap hadist.Mungkin metode ini tidak dapat dilakukan oleh pribadi-pribadi, tetapi sangat mungkin di lakukan oleh kelompok.
b.      Islam Sebagai Produk Sejarah dan Sasaran Penelitian.
            Perlu ditegaskan, ternyata ada bagian dari islam yang merupakan produk sejarah, teologi Syi’ah adalah bagian dari wajah islam produk sejarah. Konsep Khulafa al-Rasyidin adalah produk sejarah, karena nama ini muncul belakangan. Seluruh bangunan islam klasik , tengah dan modern adalah produk sejarah. Andaikata khalifah Al-Mansur tidak meminta Imam Malik menulis Al-Mawatta’, kitab hadis semacam ini mungkin tidak ada, karena itu al-muwatta, sebagai kumpulan hadist juga merupakan produk sejarah. Sejarah politik, ekonomi dan sosial islam, Sejarah regional di Pakistan, Asia Tenggara, di Indonesia dan dimanapun  juga adalah bagian dari islam sebagai produk sejarah. Demikian juga Filsafat islam, kalam, fiqih, ushul fiqih juga produk sejarah.




D.    KESIMPULAN
Sejarah adalah ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, wktu, objek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut.Menurut ilmu ini, segala peristiwa dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, di mana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
Metode penelitian sejarah adalah ilmu yang membicarakan jalan untuk menyelidiki dan meneliti suatu subjek untuk menemukan fakta-fakta guna menghasilkan produk baru, memecahkan suatu masalah, atau untuk menyokong atau menolak suatu teori dengan mengaplikasikan jalan pemecahannya dari perspektif historis.
Pendekatan sejarah ini mengutamakan oreintasi pemahaman atau penafsiran terhadap fakta sejarah, sejarah tersebut berperan sebagai metode analisis, karena sejarah dapat menyajikan gambaran tentang unsur-unsur yang mendukung timbulnya suatu kejadian, maka agama sebagai sasaran penelitian haruslah dijelaskan fakta-faktanya yang berhubungan dengan waktu.




















EDaftar Pustaka
1.      Hakim, Atang Abdul, dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, (Bandung: Rosda).
2.      Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998
3.      Taufik Abdullah dan M Rusli Karim (ed.), Metodologi Penelitian Agama Sebuah Pengantar, Yogyakarta; Tiara Wacana Yogyakarta, 1990, Cet. ke-2, h. 92
4.      Al-Qur’an al-karim
5.      Achmadi, Studi Agama di Belanda (Laporan Penelitian). Leiden: INIS, 1994.
6.      Abdullah, M. Amin, Studi Agama Normativitas atau Historisitas, Yogyakarta;1996
7.      Abdullah, Taufik, (ed.), Sejarah dan Masyarakat, Jakarta; Pustaka Firdaus, 1987
8.      Gottschalk, Louis. Mengerti Sejarah. Terj. Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI-Press, 1983.


0 comments: