Tuesday, 29 October 2013

PENDEKATAN SOSIOLOGI DALAM KAJIAN ISLAM

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Studi Islam
Mata kuliah :  Metodologi Studi Islam
Dosen Pengampu : Bapak Maghfur Ahmad









 Oleh:
Ali Imron (2011113024)
Kelas A
                                                                              










JURUSAN AL AKHWAL AL SAKHSIYYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
TAHUN 2013
Pendekatan Sosiologi dalam Kajian Islam
1.        Apa yang dimaksud sosiologi?
Menurut kamus umum bahasa indonesia, sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan, ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat atau sifatnya masyarakat.
Menurut kamus sosiologi, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial, proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial dan masalah-masalah sosial.
Menurut Hartini, sosiologi adalah ilmu masyarakat, ilmu pengetahuan yang mempelajari perkembangan dan prinsip-prinsip organisasi sosial. Umumnya tingkah laku kelompok sebagai perbedaan dari tingkah laku individu dan kelompok.
Sementara itu, Soerjono Soekanto mengartikan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang membatasi diri terhadap persoalan penilaian. Sosiologi tidak menetapkan ke arah mana sesuatu seharusnya berkembang dalam arti memberi petunjuk-petunjuk yang menyangkut kebijaksanaan kemasyarakatan dari proses kehidupan bersama tersebut. Dalam sosiologi juga dibahas tentang proses-proses sosial mengikat bahwa pengetahuan perihal struktur masyarakat saja belum cukup untuk memperoleh gambaran yang nyata mengenai kehidupan bersama dari masyarakat.
Dari definisi tersebut terlihat bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan, serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan.

2.        Apa bedanya sosiologi dengan antropologi?

No
Perbedaan antara Studi Antropologi dengan Studi Sosiologi
Antropologi
Sosiologi
1
Obyek kajian terhadap budaya yang ada pada  manusia
Obyek kajian studi lebih dipusatkan pada Masyarakat
2
Metode penelitian menggunakan Deskriptif, Kualitatif, Holistik, dan Komparatif
Metode penelitian lebih dipusatkan pada Kuantitatif daripada kualitatif karena sosiologi mempelajari kehidupan masyarakat dan harus mengunakan data statistik untuk mendapatkan data yang otentik dan valid.
3
Antropologi mempelajari tentang budaya yang ada pada kalangan masyarakat dalam suatu etnis tertentu. Tentunya antropologi lebih juga menitikberatkan pada personal dan penduduk yang merupakan masyarakat tunggal
Ranah keilmuan banyak mempelajari segala hal tentang masyarakat hingga solusi-solusi yang menciptakan integrasi masyarakat.


3.        Topik apa saja yang dibahas dalam sosiologi?
Selain yang dijelaskan sebelumnya, sosiologi juga membahas tentang komoditas, penelitian tentang kejahatan, keluarga, sosiologi sejarah ekologi manusia,geografi manusia, sosiologi industri, lembaga, hubungan antar kelompok,metodelogi sosiologi politik, penduduk (termasuk eguenik dan eutenik), sosiologi pedesaan, pengendalian sosial, kekacauan sosial (termasuk masalah sosial dan patologi sosial), organisasi, psikiatri sosial, sosial pengetahuan, sosiologi agama, sosiometri, dan sosiologi kota.

4.        Apa relevansi sosiologi dengan agama/Islam?
Melalui pendekatan sosiologi agama akan dipahami dengan mudah, karena agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial. Dalam Alquran misalnya kita jumpai ayat-ayat berkenaan dengan hubungan manusia dengan manusia lainnya, sebab-sebab yang menyebabkan kemakmuran suatu bangsa, dan sebab-sebab yang menyebabkan kesengsaraan suatu bangsa.

5.        Sebutkan fungsi sosial agama dalam kehidupan manusia?
Fungsi Sosial Agama
Secara sosiologis, pengaruh agama bisa dilihat dari dua sisi, yaitu pengaruh yang bersifat positif atau pengaruh yang menyatukan (integrative factor) dan pengaruh yang bersifat negatif atau pengaruh yang bersifat destruktif dan memecah-belah (desintegrative factor). Pembahasan fungsi sosial agama dijelaskan secara terpisah yaitu fungsi integrative dan disintegrative.
Ø  Fungsi Integratif Agama
Peranan sosial agama sebagai faktor integratif bagi masyarakat berarti peran agama dalam menciptakan suatu ikatan bersama, baik diantara anggota-anggota beberapa masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka. Hal ini dikarenakan nilai-nilai yang mendasari sistem-sistem kewajiban sosial didukung bersama oleh kelompok-kelompok keagamaan sehingga agama menjamin adanya konsensus dalam masyarakat.
Ø  Fungsi Disintegratif Agama.
Meskipun agama memiliki peranan sebagai kekuatan yang mempersatukan, mengikat, dan memelihara eksistensi suatu masyarakat, pada saat yang sama agama juga dapat memainkan peranan sebagai kekuatan yang mencerai-beraikan, memecah-belah bahkan menghancurkan eksistensi suatu masyarakat. Hal ini merupakan konsekuensi dari begitu kuatnya agama dalam mengikat kelompok pemeluknya sendiri sehingga seringkali mengabaikan bahkan menyalahkan eksistensi pemeluk agama lain.

6.        Mengapa agama (Islam) sering dinilai sebagai penyebab konflik sosial? Setujukah anda dengan statemen ini? Jelaskan!
Agama (islam) sering dinilai sebagai penyebab konflik sosial ini karena banyak ayat-ayat alquran dan hadis-hadis nabi yang proposi terbesar kedua sumber hukum islam itu berkenaan dengan urusan muamalah (sosial) namun terdapat opnum-opnum tertentu yang tidak memahami islam secara utuh.
Saya tidak setuju jika islam dikatakan sebagai penyebab konflik sosial, karena pada dasarnya agama islam itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial, banyak ayat-ayat alquran dan hadis-hadis nabi yang proposi terbesar kedua sumber hukum islam itu berkenaan dengan urusan muamalah jika kita dapat memahaminya dengan pemahaman yang benar ini justru agama sangat membantu dalam memahami masalah-masalah sosial.

7.        Mengapa sosiologi penting dijadikan sebagai alat untuk memahami Islam?
Sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Hal demikian dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat dipahami secara proposonal dan tepat apabila mengunakan jasa pengetahuan ilmu sosial.
Menurut Jalaluddin Rakhmat dalam Islam Alternatif menunjukan lima alasan pokok untuk memahami agama melalui pendekatan sosiologi ini. Alasan tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Dalam alquran atau kitab-kitab hadis, proporsi terbesar kedua sumber hukum islam itu berkenaan dengan urusan muamalah. Menurut Ayatullah Khomeini dalam bukunya Al-Hukumah Al-Islamiyah yang dikutip Jalaluddin Rakhmat dikemukakan bahwa perrbandingan antara ayat-ayat ibadah satu banding seratus untuk satu ayat ibadah.
b.      Bahwa ditekannya masalah muamalah (sosial) dalam islam adalah kenyataan bahwa apabila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan sosial yang penting, maka ibadah boleh diperpendek.
c.       Bahwa ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan akan diberi ganjaran lebih besar dari pada yang bersifat perorangan.
d.      Dalam islam terdapat ketentuan bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, karena melanggar pantangan, maka tebusannya adalah melakukan sesuatu yang ada hubungannya dengan sosial.
e.       Dalam islam terdapat ajaran bahwa amal baik dalam bidang kemasyarakatan mendapat ganjaran lebih besar dari pada ibadah sunah.

8.        Bagaimana cara memahami Islam dengan pendekatan sosiologi?
Penjelasan bagaimanapun tentang agama tidak pernah tuntas tanpa mengikut sertakan aspek-aspek sosiologinya. Agama yang menyangkut kepercayaan serta berbagai praktiknnya benar-benar merupakan masalah sosial dan sampai saat ini senantiasa ditemukan dalam setiap masyarakat, manusia dimana kita memiliki berbagai catatan bagaimana seharusnya menyikapi masalah ini dari sudut pandang sosiologi. Agama telah dicirikan sebagai pemersatu aspirasi manusia, sebagai sejumlah besar moralitas, sumber tatanan masyarakat dan perdamaian bagi individu sebagai sesuatu yang memuliakan dan membela manusia yang beradab.
Menurut Emile Durkheim seorang pelopor sosiologi agama mengatakan bahwa agama merupakan sumber semua kebudayaan yang sangat tinggi.
Menurut Thomas F.O. Dea, mengatakan bahwa agama merupakan candu bagi manusia. Agama menunjukkan semangat aktivitas manusia dan sejumlah bentuk-bentuk sosial yang mempunyai cara penting, mendekati aspek ekstensi manusia yang berisi aspek kehidupan manusia.
9.        Sebutkan hasil-hasil kajian Islam dengan pendekatan sosiologi?
·         Peristiwa  Nabi Yusuf dahulu budak lalu akhirnya bisa menjadi penguasa di Mesir, dapat ditemukan hikmahnya dan jawabannya dengan bantuan ilmu sosiologi.
·         Mengapaa dalam melaksanakan tugasnya Nabi Musa harus dibantu Nabi Harun, ini juga hanya dapat dijawab dan ditemukan hikmahnya denagan bantuan ilmu sosiologi.

Wednesday, 23 October 2013

Pendekatan Sejarah dalam Kajian Islam

A. Pendahuluan
Islam telah menjadi kajian yang menarik minat banyak kalangan.Studi keislaman pun semakin berkembang.Islam tidak lagi dipahami hanya dalam pengertian historis dan doktriner, tetapi telah menjadi fenomena yang kompleks.Islam tidak hanya terdiri dari rangkaian petunjuk formal tentang bagaimana seorang individu harus memaknai kehidupannya.Islam telah menjadi sebuah sistem budaya, peradaban, komunitas politik, ekonomi dan bagian sah dari perkembangan dunia.Mengkaji dan mendekati Islam, tidak lagi mungkin hanya dari satu aspek, karenanya dibutuhkan metode dan pendekatan interdisipliner.
Semua aspek kehidupan tidak lepas dari faktor sejarah, sejarah merupakan bukti yang nyata untuk melangkah lebih maju, karena dengan sejarah, manusia bisa belajar kesalahan-kesalahan yang telah lalu dan mengetahui data-data yang bisa di pertanggung jawabkan. Dalam metologi islam, diperlukan sejarah untuk mengetahui kebenaran yang valid yang tidak dicampuri oleh orang-orang terdahulu, untuk itu sangatlah urgan dalam penelitian sejarah.
Sementara itu, agama atau keagamaan sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji melalui berbagai sudut pandang.Islam khususnya, sebagai agama yang telah berkembang selama empatbelas abad lebih menyimpan banyak banyak masalah yang perlu diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan pemikiran kegamaan maupun realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya.Salah satu sudut pandang yang dapat dikembangkankan bagi pengkajian Islam itu adalah pendekatan sejarah.Berdasarkan sudut pandang tersebut, Islam dapat dipahami dalam berbagai dimensinya.Betapa banyak persoalan umat Islam hingga dalam perkembangannya sekarang, bisa dipelajari dengan berkaca kepada peristiwa-peristiwa masa lampau, sehingga segala kearifan masa lalu itu memungkinkan untuk dijadikan alternatif rujukan di dalam menjawab persoalan-persoalan masa kini. Di sinilah arti pentingnya sejarah bagi umat Islam pada khususnya, apakah sejarah sebagai pengetahuan ataukah ia dijadikan pendekatan didalam mempelajari agama.












B. Rumusan Masalah
1. Pendekatan sejarah
2. Metode Penelitian Sejarah
3. Islam Sebagai Wahyu dan Produk Sejarah




C.    PEMBAHASAN
1. PENDEKATAN SEJARAH
Sejarah atau historis adalah ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, wktu, objek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut.Menurut ilmu ini, segala peristiwa dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, di mana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut.Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis.
Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini, Kuntowijoyo telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang dalam hal ini islam, menurut pendekatan sejarah. Ketika ia mempelajari Alquran, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya kandungan Alquran ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, berisi konsep-konsep dan bagian kedua, berisi kisah-kisah sejarah dan perumpamaan.
Dalam bagian pertama yang berisi konsep-konsep, kita mendapat banyak sekali istilah Alquran yang merujuk pada pengertian-pengertian normatif yang khusus, doktrin-doktrin etik, aturan-aturan legal, dan ajaran-ajaran keagamaan pada umumnya.Istilah-istilah atu singkatnya pernyataan-pernyataan itu mungkin diangkat dari konsep-konsep yang telah dikenal oleh masyarakat Arab pada waktu Al-quran diturunkan atau bisa jadi merupakan istilah-istilah baru yang di bentuk untuk mendukung adanya konsep-konsep religius yang ingin diperkenalkannya.Yang jelas, istilah-istilah itu kemudian di integrasikan ke dalam pandangan dunia Alquran, dan dengan demikian lalu menjadi konsep-konsep yang otentik.
Dalam bagian pertama ini kita mengenal banyak sekali konsep, baik yang bersifat abstrak maupun konkret.Konsep tentang Allah, konsep tentang malaikat, tentang akhirat, tentang ma’ruf, tentang munkar dan sebagainya adalah konsep-konsep yang abstrak. Sementara itu juga di tunjukkan konsep-konsep yang lebih menunjukkan kepada fenomena konkret dan dapat diamati (observable) misalnya konsep tentang fuqara (orang-orang fakir), dhu’afa (orang lemah), mustadl’afin (kelas tertindas), zhalimun (para tiran), aghniya (orang kaya), mustakbirun (penguasa), mufasidun (koruptor-koruptor), dan sebagainya.
Selanjutnya, jika pada bagian yang berisi konsep-konsep Alquran bermaksud membentuk pemahaman yang komprehensif mengenai nilai-nilai islam, maka pada bagian kedua yang berisi kisah-kisah dan perumpamaan, Alquran ingin mengajak dilakukannya perenungan untuk memperoleh hikmah. Melalui kontemplasi terhadap kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa historis dan juga melalui kiasan-kiasan yang berisi hikmah tersembunyi, manusia diajak merenungkan hakikat dan makna kehidupan.Banyak sekali ayat yang berisi ajakan semacam ini, tersirat maupun tersurat, baik menyangkut hikmah histori ataupun simbol-simbol.Misalnya simbol tentang rapuhnya rumah laba-laba, tentang luruhnya sehelai daun yang tak lepas dari pengamatan Tuhan atau tentang keganasan samudera yang menyebabkan orang-orang kafir berdoa.
Melalui pendekatan sejarah ini seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Dari sini maka seseorang tidak akan memahami agama keluar dari konteks historinya, karena pemahaman demikian itu akan menyesatkan orang yang memahaminya. Seseorang yang ingin memahami Alquran secara benar misalnya, yang bersangkutan harus mempelajari sejarah turunnya Alquran atau kejadian-kejadian yang mengiringi turunnya Alquran yang selanjutnya di sebut sebagai Ilmu Asbab Al-Nuzul (Ilmu tentang sebab-sebab turunnya Ayat Alquran) yang pada intinya berisi tentang sejarah turunnya Ayat Alquran. Dengan ilmu Asbab un Nuzul ini seseorang akan dapat mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenaan dengan hukum tertentu dan ditunjukkan untuk memelihara syariat dan kekeliruan memahaminya.

2METODE PENELITIAN SEJARAH
Metode penelitian sejarah lazim juga disebut metode sejarah.  Metode itu sendiri berarti cara, jalan, atau petunjuk pelaksanaan atau petunjuk teknis. Metode di sini dapat dibedakan dari metodologi, sebab metodologi adalah “science of methods” ,yakni ilmu yang membicarakan jalan. Sementara yang dimaksud dengan penelitian, menurut Florence M.A. Hilbish (1952), adalah penyelidikan yang saksama dan teliti terhadap suatu subjek untuk menemuka fakta-fakta guna menghasilkan produk baru, memecahkan suatu maslah, atau untuk menyokong atau menolak suatu teori. Oleh karna itu, metode sejarah dalam pengertiannya yang umum adalah penyelidikan atas suatu masalah dengan mengaplikasikan jalanpemecahannya dari perspektif historis.
Berdasarkan pengertian di atas, para ahli ilmu sejarah sepakat untuk menetapkan empat kegiatan pokok di dalam cara meneliti sejarah. Istilah-istilah yang dipergunakan bagi keempat langkah itu berbeda-beda, tetapi makna dan maksud nya sama. Gottschalk (1983: 18), misalnya, mensistematisasikan langkah-langkah itu sebagai berikut:
1.      Pengumpulan objek yang berasal dari suatu zaman dan pengumpulan bahan-bahan tertulis dan lisan yang relevan;
2.      Menyingkirkan bahan-bahan (atau bagian-bagian daripadanya) yang tidak autentik;
3.      Menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya berdasarkan bahan-bahan yang autentik;
4.      Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya itu menjadi suatu kisah atau penyajian yang berarti.
Ringkasnya, setiap langkah ini biasa juga disebut secara berurutan dengan: heuristic, kritik atau verifikasi, aufessung atauinterprestasi, dan darstellung atau historiografi. Sebelum keempat langkah ini, sebetulnya ada satu kegiatan penting, yang oleh Kuntowijoyo (1995: 98) ditambahkannya menjadi lima tahap penelitian sejarah, yaitu pemilihan topic dan rencana penelitian.
Dengan menggunakan pendekatan sejarah ada minimal dua teori yang bisa digunakan yaituIdealist Approach  danReductionalitst Approach. Maksud idealist approach adalah seorang peneliti yang berusaha memahami dan menafsirkan fakta sejarah dengan mempercayai secara penuh fakta yang ada tanpa keraguan. Sedangkanreductionalitst  approach adalah seorang peneliti yang berusaha memahami dan menafsirkan fakta sejarah dengan penuh keraguan. Seperti dijelaskan sebelumnya ada 3 teori lain yang penting di pahami dengan pendekatan sejarah, yakni: diakronik, sinkronik dan sistem nilai.
1.      Diakroni
Diakronik dalah penelusuran sejarah dan perkembangan satu fenomena yang sedang diteliti. Misalnya kalau sedang meneliti konsep riba, menurut Muhammad Abduh diakroninya adalah harus lebih dahulu membahas kajian-kajian orang sebelumnya yang pernah membahas tentang riba.
2.      Sinkronik
Sinkronik adalah kontekstualisasi atau sosiologis kehidupan yang mengitari fenomena yang sedang diteliti. Kembali pada contoh konsep riba Muhammad ‘Abduh, maka sosial kehidupan Muhammad ‘Abduh dan sosial kehidupan tokoh-tokoh yang pernah membahas fenomena yang sama juga harus dibahas.
3.      Sistem nilai
Sistem nilai adalah sistem nilai atau budaya sang tokoh dan budaya dimana dia hidup. Maka penelitian dengan teori diakroni, sinkroni dan sistem budaya adalah penelitian yang menelusuri latar belakang dan perkembangan fenomena yang diteliti lengkap dengan sejarah sosio-historis dan nilai budaya yang mengitarinya. Maka wajar kalau alat analisis ini lebih dikenal sebagai alat analisis sejarah dan/atau sosial (sosiologi).
3.ISLAM SEBAGAI WAHYU DAN PRODUK SEJARAH
a.      Islam Sebagai Wahyu
Islam biasanya di definisikan sebagai berikut: al-islam wah-yun ilahiyun unzila ila nabiyyi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallama lisa’adati al-dunya wa al-akhiroh (islam adalah wahyu yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW sebagai pedoman untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat) jadi inti islam adalah wahyu yang di turunkan kepada Nabi Muhammad. Kita percaya bahwa wahyu itu terdiri dari dua macam yaitu: wahyu yang berbentuk Al-Qur’an dan whyu yang berbentuk hadist, sunnah Nabi Muhammad SAW.Persoalan-persoalan di sekitar Al-Qur’an yang dapat dijadikan sasaran penelitian itu banyak sekali.Kalau kita lihat kitab-kitab Ulumul Qur’an, banyak sekali di daftar persoalan-persoalan di sekitar Al-Quran itu.
Tujuan studi Al-Quran bukan mempertanyakan kebenaran Al-Quran sebagai wahyu, tetapi misalnya mempertanyakan bagaimana membaca Al-Qur’an, kenapa cara membacanya begitu? Berapa macam jenis bacaan itu? Siapa yang menggunakan jenis-jenis bacaan tertentu, apa kaitannya dengan bacaan-bacaan sebelumnya? Apa sesungguhnya yang melatar belakangi lahirnya suatu ayat? Apa maksud ayat itu?  Maka lahirlah misalnya tafsir Maudu’I yang merupakan salah satu bentuk jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan diatas.
Mengenai nasikh-mansukh, orang juga terus berbeda pendapat.Meskipun kita ambil pendapat bahwa ada ayat Al-Quran yang dimansukh, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai jumlah ayat yang di mansukh. Awalnya, jumlah ayat yang di mansukh adalah 115 ayat, kemudian turun menjadi 60 ayat, sekarang turun lagi menjadi 16 ayat.Itu merupakan persoalan penting untuk di teliti. Menurut al-itqen, paling kurang ada 80 topik persoalan yang perlu diteliti dalam persoalan-persoalan berkaitan dengan Al-Quran.
Selanjutnya islam sebagai wahyu yang di serminkan dalam hadist-hadist nabi Muhammad saw. Persoalan di sekitar hadist tidak perlu dikemukakan banyaknya. Bagaimana dalam buku hadist pertama, Al-muwatta’, yang dikumpulkan ternyata hanya memuat sekitar 700 buah hadist,termasuk sunnah sahabat. Sementara ituoleh Imam Bukhori yang datang belakangan dicatat 4.000 hadist.Oleh Imam Muslim di catat 6.000 hadist. Lalu oleh Imam Ahmad bin Hambal dicatat 8.500 hadist. Kenapa ada pertambahan jumlah semacam itu?Kemudian ada hadist shahih, hadist mutawatir, hadist mashur dan hadist ahad.Wilayah-wilayah inilah yang dapat dijadikan kajian.Fazlur Rahman berpendapat, yang menyarankan penggunaan pendekatan historical criticism terhadap hadist.Mungkin metode ini tidak dapat dilakukan oleh pribadi-pribadi, tetapi sangat mungkin di lakukan oleh kelompok.
b.      Islam Sebagai Produk Sejarah dan Sasaran Penelitian.
            Perlu ditegaskan, ternyata ada bagian dari islam yang merupakan produk sejarah, teologi Syi’ah adalah bagian dari wajah islam produk sejarah. Konsep Khulafa al-Rasyidin adalah produk sejarah, karena nama ini muncul belakangan. Seluruh bangunan islam klasik , tengah dan modern adalah produk sejarah. Andaikata khalifah Al-Mansur tidak meminta Imam Malik menulis Al-Mawatta’, kitab hadis semacam ini mungkin tidak ada, karena itu al-muwatta, sebagai kumpulan hadist juga merupakan produk sejarah. Sejarah politik, ekonomi dan sosial islam, Sejarah regional di Pakistan, Asia Tenggara, di Indonesia dan dimanapun  juga adalah bagian dari islam sebagai produk sejarah. Demikian juga Filsafat islam, kalam, fiqih, ushul fiqih juga produk sejarah.




D.    KESIMPULAN
Sejarah adalah ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, wktu, objek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut.Menurut ilmu ini, segala peristiwa dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, di mana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
Metode penelitian sejarah adalah ilmu yang membicarakan jalan untuk menyelidiki dan meneliti suatu subjek untuk menemukan fakta-fakta guna menghasilkan produk baru, memecahkan suatu masalah, atau untuk menyokong atau menolak suatu teori dengan mengaplikasikan jalan pemecahannya dari perspektif historis.
Pendekatan sejarah ini mengutamakan oreintasi pemahaman atau penafsiran terhadap fakta sejarah, sejarah tersebut berperan sebagai metode analisis, karena sejarah dapat menyajikan gambaran tentang unsur-unsur yang mendukung timbulnya suatu kejadian, maka agama sebagai sasaran penelitian haruslah dijelaskan fakta-faktanya yang berhubungan dengan waktu.




















EDaftar Pustaka
1.      Hakim, Atang Abdul, dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, (Bandung: Rosda).
2.      Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998
3.      Taufik Abdullah dan M Rusli Karim (ed.), Metodologi Penelitian Agama Sebuah Pengantar, Yogyakarta; Tiara Wacana Yogyakarta, 1990, Cet. ke-2, h. 92
4.      Al-Qur’an al-karim
5.      Achmadi, Studi Agama di Belanda (Laporan Penelitian). Leiden: INIS, 1994.
6.      Abdullah, M. Amin, Studi Agama Normativitas atau Historisitas, Yogyakarta;1996
7.      Abdullah, Taufik, (ed.), Sejarah dan Masyarakat, Jakarta; Pustaka Firdaus, 1987
8.      Gottschalk, Louis. Mengerti Sejarah. Terj. Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI-Press, 1983.


Thursday, 17 October 2013

Evolusi Budaya dan Wujud Peradaban dalam Kehidupan Sosial Budaya

A. Pengertian Budaya

Budaya adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cinta, karsa dan rasa. Kata budaya sebenarnya berasal dari bahasa Sanskerta budhayah yaitu bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa Inggris, kata budaya berasal dari kata culture, dalam bahasa belanda di istilahkan dengan kata cultuur, dalam bahasa latin, berasal dari kata colera yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, mengembangkan tanah (bertani).

Kemudian pengertian ini berkembang dalam arti culture, yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam. Berikut pengertian budaya atau kebudayaan dari beberapa ahli :
1)      E. B. Tylor, budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
2)      R. Linton, kebudayaan dapat dipandang sebagai konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkahlaku yang dipelajari, dimana unsur pembentuknya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat lainnya.
3)      Koentjaraningrat, mengartikan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, milik diri manusia dengan belajar.
4)      Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, mengatakan bahwa kebudayaan adalah semua hasiol karya, rasa, dan cipta masyarakat.
5)      Herkovits, kebudayaan adalah bagian dari lingkungan hidup yang diciptakan oleh manusia.
Dengan demikian, kebudayaan atau budaya menyangkut keseluruhan aspek kehidupan manusia baik material maupun non material. Sebagian besar ahli yang mengartikan kebudayaan seperti ini kemungkinan besar sangat di pengaruhi oleh pandangan evolusionisme, yaitu suatu teori yang mengatakan bahwa kebudayaan itu akan berkembang dari tahapan yang sederhana menuju tahapan tang lebih kompleks.

B. Perwujudan Kebudayaan Dan Unsur-unsurnya
Wujud kebudayaan itu adalah sebagai suatu rangkaian tindakan dan aktivitas manusia yang berpola. Demikian pula J.J Honigmann dalam bukunya The World of Man (1959) membagi budaya dalam tiga wujud, yaitu: ideas, activities, and artifact. Sejalan dengan pikiran para ahli tersebut, Koentjaraningrat mengemukakan bahwa kebudayaan itu dibagi atau digolongkan dalam tiga wujud, yaitu:
1.      Wujud Ideal
Wujud sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma dan peraturan.Kebudayaan ide ini disebut juga tata kelakuan, hal ini menunjukkan bahwa budaya ideal mempunyai fungsi mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada tindakan, kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat sebagai sopan santun.
Kesimpulannya, budaya ideal ini merupakan perwujudan dan kebudayaan yang bersifat abstrak.
2.      Sistem Sosial
Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud ini disebut juga sistem sosial, karena menyangkut tindakan dan kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial ini merupakan perwujudan kebudayaan yang bersifat konkret, dalam bentuk perilaku dan bahasa.
3.      Kebudayaan Fisik
Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud kebudayaan yang terakhir ini disebut pula kebudayaan fisik. Dimana wujud budaya ini hampir seluruhnya merupakan hasil fisik (aktivitas perbuatan dan kerya semua manusia dalam masyarakat). Kebudayaan fisik ini merupakan perwujudan kebudayaan yang bersifat konkret, dalam bentuk materi/artefak.
Contohnya: Candi Borobudur (besar), kain batik, dan kancing baju (kecil), teknik bangunan misalnya, cara pembuatan tembok dengan pondasi rumah yang berbeda bergantung pada kondisi.

Adapun Unsur kebudayaan yang bersifat universal yang dapat kita sebut sebagai isi pokok tiap kebudayaan di dunia ini, ialah:
1)        Peralatan dan perlengkapan hidup manusia sehari-hari misalnya: pakaian, perumahan, alat rumah tangga, senjata dan sebagainya.
2)        Sistem mata pencaharian dan sistem ekonomi. Misalnya: pertanian, peternakan, sistem produksi.
3)        Sistem kemasysrakatan, misalnya: kekerabatan, perkawinan, sistem warisan.
4)        Bahasa sebagai media komunikasi, baik lisan maupun tulisan.
5)        Ilmu pengetahuan.
6)        Kesenian, misalnya seni suara, seni rupa, seni gerak.
7)        Sistem Religi. [1]
Masing-masing unsur kebudayaan universal ini pasti menjelma dalam ketiga wujud budaya tersebut, yaitu wujud sistem budaya, sistem sosial, dan unsur budaya fisik.
Perlu dimengerti bahwa unsur-unsur kebudayaan yang membentuk struktur kebudayaan itu tidak berdiri lepas dengan lainnya. Kebudayaan bukan hanya sekedar jumlah dari unsur-unsur saja, melainkan keseluruhan dari unsur-unsur tersebut yang saling berkaitan erat (integrasi), yang membentuk kesatuan yang harmonis. Masing-masing unsur mempengaruhi secara timbal balik.Apabila terjadi perubahan pada salah satu unsur maka akan menimbulkan perubahan pada unsur yang lain.

C. Dinamika Perubahan Kebudayaan
Tidak ada kebudayaan yang bersifat statis. Setiap individu dan setiap generasi melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan semua desain kehidupan sesuai dengan kepribadian mereka dan sesuai dengan tuntutan zaman.
Kebudayaan mengalami perubahan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:
1.      Perubahan yang disebabkan oleh perubahan dalam lingkungan alam, misalnya perubahan iklim, kekurangan bahan makanan atau bahan bakar, atau berkurangnya jumlah penduduk. Semua ini memaksa orang untuk beradaptasi. Mereka tidak bisa mempertahankan cara hidup lama, tetapi harus menyesuaikan diri dengan situasi dan tantangan baru.
2.      Perubahan yang disebabkan oleh adanya kontak dengan suatu kelompok masyarakat yang memiliki norma-norma, nilai-nilai, dan teknologi yang berbeda.
3.      Perubahan yang terjadi karena discovery (penemuan) dan invention (penciptaan bentuk baru). Discovery adalah suatu bentuk penemuan baru yang berupa persepsi mengenai hakikat suatu gejala atau hakikat hubungan antara dua gejala atau lebih (Parsudi Suparlan, 1986). Invention adalah penciptaan bentuk baru dengan mengkombinasikan kembali pengetahuan dan materi-materi yang ada. Misalnya penciptaan mesin uap, pesawat terbang.
4.      Perubahan yang terjadi karena suatu masyarakat atau bangsa mengadopsi beberapa elemen kebudayaan material yang telah di kembangkan oleh bangsa lain di tempat lain. Pengadopsian semacam ini membawa serta perubahan-perubahan sosial secara mendasar, karena elemen kebudayaan material semacam komputer, mobil, traktor, televisi dan sebagainya itu bisa mengubah seluruh sistem organisasi sosial.
5.      Perubahan yang terjadi karena suatu bangsa memodifikasi cara hidupnya dengan mengadopsi suatu pengetahuan atau kepercayaan baru, atau kerena perubahan dalam pandangan hidup dan konsepsinya tentang realitas. Perubahan ini biasanya berkaitan dengan munculnya pemikiran ataupun konsep baru dalam bidang filsafat, ilmu pengetahuan, dan agama.

D. Substansi (isi) Utama Budaya
Substansi (isi) utama kebudayaan merupakan wujud abstrak dari segala macam ide dan gagasan manusia yang bermunculan di dalam masyarakat yang memberi jiwa kepada masyarakat itu sendiri, baik dalam bentuk atau sistem pengetahuan , nilai, pandangan hidup, kepercayaan, persepsi, dan etos kebudayaan.

E. Manusia dan Peradaban
Peradaban berasal dari kata adab yang berarti kesopanan, kehormatan, budi bahasa dan etiket. Lawannya adalah biadab, kasar, kurang ajar dan tak tahu pergaulan. Peradaban adalah seluruh kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan ilmu teknik untuk kegunaan praktis.Peradaban sebagai suatu perwujudan budaya yang didasarkan pada akal (rasio) semata-mata dengan mengabaikan nurani akan berlainan dengan perwujudan budaya yang didasarkan pada akal, nurani, dan kehendak sebagai kesatuan yang utuh.

Manusia yang beradab adalah manusia yang memiliki kesopanan dan berbudi pekerti. Manusia yang tidak beradab = biadab.  Berikut penjelasan mengenai pengertian peradaban dari para ahli:
Ø  Prof. Dr. Koentjaraningrat, peradaban ialah bagian- bagian kebudayaan yang halus dan indah seperti kesenian.
Ø  Oswald Spengl (1880-1936) Kebudayaan ialah wujud dari seluruh kehidupan adat, industrial filsafat dan sebagainya, peradaban ialah kebudayaan yang sudah tidak tumbuh lagi, sudah mati.

Peradaban didefinisikan sebagai keseluruhan kompleksitas produk pikiran kelompok manusia yang mengatasi negara, ras, suku atau agama yang membedakannya dari yang lain. Beradab setidaknya sebuah masyarakat bersifat relatif dan harus ada norma. Kebutuhan akan adab dengan peradaban mengacu pada masyarakat yang memiliki organisasi sosial, kebudayaan dan cara berkehidupan yang sudah maju yang menyebabkan berbeda dari masyarakat lain.

Istilah peradaban dalam bahasa Inggris disebut Civilization. Istilah peradaban sering dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian kita terhadap perkembangan kebudayaan. Definisi peradaban menurut Koentjaraningrat menyatakan bahwa peradaban merupakan bagian dan unsur kebudayaan yang halus, maju, dan indah seperti misalnya kesenian, ilmu pengetahuan, adat sopan santun, pergaulan, kepandaian menulis, organisasi kenegaraan, kebudayaan yang mempunyai system teknologi dan masyarakat kota yang maju dan kompleks.

Pada waktu perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya berwujud unsur-unsur budaya yang bersifat halus, indah, tinggi, sopan, luhur dan sebagainya, maka masyarakat pemilik kebudayaan tersebut dikatakan telah memiliki peradaban yang tinggi. Tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh faktor:
·         Pendidikan,
·         Kemajuan teknologi dan
·         Ilmu pengetahuan.

F. Evolusi Budaya dan Wujud Peradaban dalam Kehidupan Sosial Budaya

1. Wujud Peradaban
Orang Barat yang mempunyai peradaban tinggi dengan teknologi canggih belum tentu kebudayaannya tinggi jika semua itu hanya akan membinasakan umat manusia.
a.       Nilai berarti mempertimbangkan untuk menentukan apakah sesuatu itu bermanfaat atau tidak, hasil penilaian disebut nilai (value).
b.      Moral adalah kebiasaan berbuat baik disebut perbuatan moral atau susila. Moral bersifat kodrati, artinya manusia sejak diciptakan dibekali dengn sifat-sifat baik, jujur, dan adil.
c.       Norma adalah suatu aturan yang berlaku, bersifat mengikat, norma diperlukan dalam menuntun sikap dan tingkah laku manusia.
d.      Etika adalah ilmu tentang kebiasaan yang baik berupa perilaku.
e.        Estetika adalah ilmu yang mengkaji tentang sifat estetis suatu objek dan merupakan bagian dari ilmu filsafat yang menelaah dan membahas aspek-aspek keindahan sesuatu mengenai rasa, sifat, norma, cara menanggapi dan cara membandingkannya dengan menggunakan penilaian perasaan.
            
2. Evolusi budaya
Evolusi kebudayaan ini berlangsung sesuai dengan perkembangan budi daya atau akal pikiran manusia dalam menghadapi tantangan hidup dari waktu ke waktu. Proses evolusi untuk tiap kelompok masyarakat di berbagai tempat berbeda-beda, bergantung pada tantangan, lingkungan, dan kemampuan intelektual manusianya untuk mengantisipasi tantangan tadi.
Masa dalam kehidupan manusia dapat kita bagi dua, yaitu masa prasejarah (masa sebelum manusia mengenal tulisan sampai manusia mengenal tulisan) dan masa sejarah (masa manusia telah mengenal tulisan). Data-data tentang masa prasejarah diambil dari sisa-sisa dan bukti-bukti yang digali dan diinterpretasi. Masa sejarah bermuda ketika adanya catatan tertulis untuk dijadikan bahan rujukan. Penciptaan tulisan ini merupakan satu penemuan revolusioner yang genios. Bermula dari penciptaan properti dan lukisan objek, seperti kambing, lembu, wadah, ukuran barang, dan sebagainya; diikuti dengan indikasi angka; kemudian diikuti simbol yang mengindikasikan transaksi, nama, dan alamat yang bersangkutan; selanjutnya simbol untuk fenomena harian, hubungan antara mereka, dan akhirnya intisari, seperti warna, bentuk, dan konsep.
Ada dua produk revolusioner hasil dari akal manusia dalam zaman prasejarah, yaitu:
a.       Penemuan roda untuk transportasi, pada mulanya roda digunakan hanya untuk mengangkat barang berat di atas sebuah pohon. Kemudian, roda disambung dengan kereta, lalu berkembang menjadi mobil seperti saat ini.
b.      Bahasa adalah suara yang diterima sebagai cara untuk menyampaikan pikiran seseorang kepada orang lain. Ketika tanda-tanda diterima sebagai representasi dan bunyi-bunyi arbitrer yang mewakili ide-ide, masa prasejarah pun beralih ke masa sejarah tertulis.

Mengenai masa prasejarah ini, ada dua pendekatan untuk membagi zaman prasejarah, yaitu:
1.      Pendekatan berdasarkan hasil teknologi, terdiri dari zaman batu tua (paleolitikum), zaman batu tengah/madya (Mesolitikum), dan zaman batu baru (Neolitikum)
2.      Pendekatan berdasarkan model social ekonomi atau mata pencaharian hidup yang terdiri atas:
a.       Masa berburu dan mengumpulkan makanan, meliputi masa berburu sederhana (tradisi Paleolit) dan masa berburu tingkat lanjut (tradisi Epipaleolitik).
b.      Masa bercocok tanam, meliputi tradisi Neolitik dan Megalitik.
c.       Masa kemahiran teknik atau perundagian, melliputi tradisi semituang besi.
Manusia berkembang dari homo menjadi human karena kebudayaan dan peradaban yang diciptakannya.
Sedangkan untuk sejarah kebudayaan di Indonesia, R. Soekmono (1973), dibagi menjadi empat masa, yaitu:
1.      Zaman prasejarah, yaitu sejak permulaan adanya manusia dan kebudayaan sampai kira-kira abad ke-5 masehi.
2.      Zaman purba, yaitu sejak datangnya pengaruh India pada abad pertama Masehi sampai dengan runtuhnya Majapahit sekitar tahun 1500 Masehi.
3.      Zaman madya, yaitu sejak datangnya pengaruh Islam menjelang akhir kerajaan Majapahit sampai dengann akhir abad ke-19.
4.      Zaman baru/modern, yaitu sejak masuknya anasir Barat (Eropa) dan teknik modern kira-kira tahun 1900 sampai.

Peradaban tidak lain adalah perkembangan kebudayaan yang telah mendapat tingkat tertentu yang diperoleh manusia pendukungnya. Taraf kebudayaan yang telah mencapai tingkat tertentu tercermin pada pendukungnya yang dikatakan sebagai beradab atau mencapai peradaban yang tinggi. Jadi, evolusi kebudayaan bisa mencapai sampai pada taraf tinggi yaitu: peradaban.
Peradaban merupakan tahapan dari evolusi budaya yang telah berjalan bertahap dan berkesinambungan, memperlihatkan karakter yang khas pada tahap tersebut, yang dicirikan oleh kualitas tertentu dari unsur budaya yang menonjol, meliputi tingkat ilmu pengetahuan, seni, teknologi, dan spiritualitas yang tinggi. Sebagai contoh, peradaban Mesir Kuno tercermin dari hasil budaya yang tinggi dalam sosok bangunannya (piramid, obeliks, spinx) yang terkait dengan ilmu bangunan, tulisan, serta gambar yang memperlihatkan tahap budaya. Contoh lainnya, tentang peradaban Cina Kuno, yang juga menampakkan tingkat ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi dalam hal tulisan yang menjadi ciri budaya setempat. Peradaban kuno di Indonesia menghasilkan berbagai bangunan seni yang bernilai tinggi, seperti Candi Borobudur, Prambanan, dan lain-lain.
Peradaban bangsa di Indonesia dimulai sejak masa kemahiran teknik atau zaman perundagian. Zaman perundagian terdiri dari dua masa, yaitu tradisi seni tulang perunggu dan tradisi tuang besi. Meskipun saat itu masih zaman prasejarah (masa sebelum mengenal tulisan), namun telah mengenal teknologi terbatas dan sederhana, yaitu pada upaya pemenuhan peralatan yang dibutuhkan masyarakat Indonesia dalam kehidupannya yang sudah mulai menetap. Di Indonesia, penggunaan logam sudah mulai dikenal beberapa abad sebelum masehi. Mereka menggunakan peralatan dari logam, seperti peralatan berburu, bercocok tanam, peralatan rumah tangga, dan lain-lain, tetapi tidak semua masyarakat dapat membuat peralatan itu. Membuat peralatan dari logam membutuhkan keahlian. Orang yang ahli membuat peralatan logam disebut undagi, tempat pembuatannya disebut perundagian. Beberapa contoh alat dari perunggu adalah kayak corong, nekara, bejana perunggu. Alat-alat ini ditemukan diberbagai daerah di Indonesia.
Peradaban bangsa Indonesia semakin maju dan berkembang estela datangnya pengaruh Hindu dan Budha ke Indonesia. Pengaruh tulisan dari budaya Hindu Budha membawa dampak besar bagi peradaban Indonesia, yaitu memasuki masa sejarah (masa mengenal bahasa tulis). Salah satu hasil budaya tulis di Indonesia adalah prasasti. Huruf yang dipakai dalam prasasti yanng ditemukan Sejak tahun 400M adalah Pallawa dan bahasa Sanksekerta. Kemampuan baca tulis masyarakat Indonesia lama-kelamaan berpengaruh dalam bidang kesustraan, yaitu munculnya banyak kitab-kitab kuno ini dapat ditelusuri peradaban bangsa Indonesia terutama dalam masa kerajaan. Peradaban bangsa semakin berkembang dengan masuknya pengaruh Islam dan masuknya pengaruh Islam dan masuknya peradaban bangsa Barat Eropa, termasuk pengaruh agama Kristen Katolik. Dewasa ini, pengaruh peradaban global semakin kuat akibat kemajuan bidang komunikasi dan informasi.





[1] Ibd. Hal. 218-219