Tuesday, 7 January 2014

Puisi



Hutanku Berubah


Masih teringat
Sepuluh tahun yang lalu,
Teringat akan hijaunya tanah kelahiranku,
Dimana pepohonan masih bisa kulihat
disepanjang jalan pantura,
pepohonan yang masih bisa berdiri dengan kokoh
dibalut hijaunya dedaunan,
bagaikan rambut  yang masih bisa
tumbuh subur dengan hitamnya, dikepalaku

tapi semua sudah berubah
hutan yang dulu hijau
kini sudah mulai menguning
hutan yang dulu menjadi kebanggaan dan menjadi simbul
tanah kelahiranku
telah hilang,
hilang ditelan keserakahan manusia
yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri

ketamakan dan kerakusan
telah membawa pada kerusakan
Mereka tak pernah perduli dengan masa depan anak cucunya,
akan hidup bagaimana nanti?                                             


Batang, 2013


Pesisir Pantai

Siang ini sangat panas
matahari membakar pantai berpasir hitam
hingga terasa membara

Di atas pasir hitam
tak jauh dari sebuah kapal yang terus menari
tiang-tiang perahu bagai  gemeteran dipermainkan ombak
hingga perahu menari-nari diatas bibir pantai
dayung-dayung berkecimpung
dan perlahan-lahan perahu meninggalkan daratan
semakin ketengah
dan terus ketengah

Batang, 2013

Sunday, 5 January 2014

Wujudkan Student Government Yang Baik




Mahasiswa telah lama ditinggalkan oleh para pemangku kebijakan. Begitulah kiranya yang terjadi selama ini ketika kebijakan dari Pemerintahan Mahasiswa (Birokrasi Kampus) seringkali justru tidak memberikan manfaat bagi mahasiswa. Kepentingan dan kemaslahatan umum terpinggirkan, terabaikan, tidak diutamkan. Jargon “pelayanan mahasiswa” hanya kata-kata kosong yang tidak langsung dirasakan oleh mahasiswa secara umum, khususnya bagi mereka mahasiswa baru, mahasiswa yang masih perlu beradaptasi dengan lingkungan kampus. Bagi mahasiswa biasa pelayanan menjadi rumit, berbelit-belit dan hasilnya kerap menjengkelkan. 


Pada kasus-kasus tertentu kepimpinan populis seolah menawarkan munculnya dukungan politik bagi pelayanan yang menjangkau semua mahasiswa. Namun kontinuitasnya dipertanyakan karena model seperti ini usianya terbatas masa jabatan pemimpinnya. Aktor-aktor politik lain seperti Partai (partai mahasiswa), DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) dan organisasi semacam itu tidak sungguh-sungguh mendorong sistem pelayanan mahasiswa secara permanen.

Seperti kasus yang terjadi bahwasannya ada beberapa mahasiswa yang kecewa dengan pelayanan pemerintah terkait Pengambilan Jas almamater. Mulai dari jangka waktu yang begitu panjang, mekanisme pengambilan Jas almamaterJas, VCD, dan sertivikat yang berbelit-belit, sampai pada hasilnya pun mereka kecewa. Menurut mereka pihak yang bersangkutan tidak serius dalam melaksanakan tugas, ada juga yang berpendapat bahwa ada indikasi korupsi dari BEM.

Melihat kondisi semacam itu jelas sekali dibutuhkan trobosan dalam perubahan sistem pelayanan kepada mahasiswa, dibutuhkan sistem alternatif yang mampu melecut kinerja pemerintah (Birokrasi Kampus) untuk memberikan pelayanan yang cepat, akurat dan mudah. Dalam hal ini mahasiswa membutuhkan jembatan untuk menyalurkan aspirasi, keluhan, klaim, tuntutan dan hak-hak mereka yang nantinya bisa disampaikan langsung kepada pihak yang bersangkutan.

Persepsi yang mengeras dibenak pemangku kebijakan (Birokrasi Kampus) bukan sebagai pelayan Mahasiswa, melainkan sebagai sosok yang waaaah, seakan hanya mencari popularitas, eksistensi dan minta dihormati. Yang dibutuhkan sebenarnya hanyalah keberanian dan adanya keseriusan dalam menjalankan program. Jika kedua sektor tersebut diperbaiki maka manfaatnya akan dapat dirasakan secara langsung oleh mahasiswa. Trend kepemimpinan memerlukan kehadiran pemimpin yang sungguh-sungguh dan berani mewujudkan mimpi-mimpi mahasiswa STAIN Pekalongan, sehingga menimbulkan kepercayaan dari mahasiswa yang dipimpinnya. Kesungguhan dan keberanian tersebut memang kadang-kadang membuat beberapa pihak menjadi tidak nyaman. Namun percayalah bahwa ketika seorang pemimpin menunjukkan kesungguhan hati dan keberanian untuk mewujudkan perubahan yang lebih baik , baik dari segi manejemen maupun program-programnya maka harapan terciptanya student government yang lebih baik akan semakin mudah. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu melawan nafsu keserakahan, idealis sebagai agent of change mampu ditegakkan, bukan malah tergadaikan.


Saturday, 4 January 2014

Gerakan Kaum Muda (mahasiswa)

            Jika dunia pendidikan masih dianggap sebagai saah satu ekosistem terpenting untuk memupuk kaderisasi yang sehat, maka sesungguhnya, sosok kaum muda (pelajar/mahasiswa) seharusnya menjadi produk yang lebih unggul dibanding dengan kelompok masyarakat lainnya. Karena itulah, dipundak mahasiswa terpikul tanggung jawab besar, yakni mengukir masa depan bangsa.


Cara yang paling mudah untuk menggambarkan perang sekaligus prestasi mahasiswa adalah dengan menengok sejarah panjang bangsa Indonesia. Tak pelak lagi, mahasiswa menjadi tulang punggung perlawanan dengan nilai-nilai idealisme yang tinggi. Mahasiswa merupakan lokomotif pendorong terciptanya transformasi social, bahkan lebih ekstrim lagi menciptakan revolusi social yang sistematik dan terpimpin. Telah tercacat dalam sejarah, gerakan kaum terpelajarlah yang akhirnya mampu mempercepat proklamasi kemerdekaan.
            Pada setiap masa, prestasi-prestasi mahasiswa terus terukir dengan indah. Namun tidak bisa dipungkiri, pada setiap generasi, selalu muncul pertanyaan yang paling mendasar, apakah prestasi itu sungguh-sungguh berarti bagi bangsa ini? Bagaimana peran yang bisa dimainkan oleh gerakan terpelajar (mahasiswa) pada masa sekarang?
Tanggung jawab moral
Ya, yang paling utama dan paling memungkinkan untuk dilakukan oleh gerakan kaum terpelajar saat ini adalah memperjuangkan tegaknya moral. Karena pada masa terakhir ini, dimana telah disinyalir oleh media massa, negara masih merupakan institusi yang paling rawan untuk disalah gunakan. Berbagai bentuk kejahatan yang dilakukan oleh aparatur negara merupakan tindakan yang secara langsung telah merampas hak-k]hak warga negara. Hak-hak warga negara yang dimaksud dalam hal ini, meliputi tiga macam, yaitu: ushul (kebutuhan pokok), muhayya-ah (penunjang kebutuhan pokok) dan mutamminah (penyempurnaan kebutuhan pokok) (KH. Abdurrohman Cludlori, 2007: 07-08)
 
Tiga dasar kebutuhan inilah yang menjadi alasan terpenting bagi gerakan kaum muda untuk tetap berada digaris depan perjuangan menegakkan moral bangsa. Sayangnya pada masa belakangan ini, gerakan mahasiswa belum cukup lihai melakukanpersinggungan dengan institusi negara. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kemampuan gerakan kaum muda untuk melakukan proses negosiasi dengan negara. Padahal, negosiasi merupakan salah stu cara untuk menegakkan moral.

Kelemahan inilah yang seringkali kita tonton pada menu-menu berita di media televisi. Aksi masa mahasiswa seringkali tidak termanajemen secara rapi, sehingga berbuntut pada kericuhan, yang disebut sebagai anarkisme oleh aparat keamanan. Patut ditegaskan bahwa aksi yang memang mensetting  kericuhan, hanya bisa dilakukan oleh gerakan mahasiswa yang memiliki keterampilan dan mental yang tengguh. Gerakan seperti ini akan berfikir tentang pasca aksi dan negosiasi yang efektif. Bahkan berfikir pula tentang format gerakan kaum terpelajar masa depan. Jika gerakan kaum mahasiswa telah mampu mencapai kemampuan ini, maka gerakan kaum mahasiswa tidak akan dituding sebagai biang keonaran, baik oleh masyarakat yang dibelanya maupun oleh aparat keaman

Tugas Intelektual Muslim
Bagaimana format gerakan kaum mahasiswa di kampus-kampus yang berlatar belakangan islam? Sesungguhnya, telah banyak tokoh-tokoh muslim yang memberikan jawaban atas hal-hal ini. Bahkan dua warisan suci yang di tinggalkan oleh baginda Rosul Muhammad Saw. Yakni Al-qur’an dan hadist , merupakan sumber dari segala sumber referensi yang tiada habisnya.

Tengok saja landasan nilai yang telah disebutkan secara tegas di dalam Al-qur’an. Pertama, nilai kesetaraan, bahwa seseorang mempunyai kedudukan yang sama tanpa memandang perbedaan ras, agama, kedudukan, sosial, dan lain sebagainya (Q.S. Al-hujarat: 13). Kedua, nilai kebebasan, bahwa adanya jaminan bagi setiap orang untuk menyampaikan pendapat dengan cara yang baik, bertanggung jawab dan berakhlaqul karimah (Q.S. At-taubah:105). Ketiga, nilai musya waroh, yakni mengambil keputusan dengan mengikutsertakan pihak-pihak yang berkepentingan baik secara langsung maupun perwakilan dalam urusan bersama (Q.S. Ali Imron: 159). Keempat, nilai keadilan, yakni menetapkan suatu keputusan baik berupa hukum, peraturan maupun kebijakan sesuai dengan hakikat kebenaran (Q.S. An-nisa: 135).
  
Nilai-nilai luhur itulah yang seharusnya menjadi ruh gerakan kaum mahasiswa muslim. Disamping itu, secara institusianal kaum mahasiswa muslim juga mempunyai pijakan berupa tri darma perguruan tinggi yang meliputi 3 (tiga) aspek, yakni keilmuan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Jika setiap mahasiswa muslim mempunyai kualifikasi yang memadai di tiga aspek tersebut, maka format gerakan yang diusung tentu akan profesional dan mapan.

oleh : Ali Imron